Més que un club: Ketika Sepak Bola Menjadi Cermin Identitas, Budaya, dan Nilai Kemanusiaan

Supporter FC Barcelona mendukung tim kesayangannya di tribun (Sumber - fcbarcelona.com)

Banyak orang yang rela begadang untuk menonton sebuah pertandingan sepak bola. Jadwal hidup mereka berubah hanya karena tim kesayangannya bermain. Mereka bisa tertawa dan berselebrasi ketika tim kesayangannya menang dan mereka juga bisa menangis hingga merasa malu ketika tim kesayangannya kalah. Sungguh aneh, kita bisa sedih hanya karena sebelas pemain yang bahkan tidak mengenal nama kita ketika timnya kalah.

Jika dipikir kembali, sepak bola hanyalah sebuah permainan. Akan tetapi, supporter menganggap ada sebuah “identitas diri” dan ikatan emosional yang membuat mereka rela untuk menghabiskan waktunya untuk menonton 90 menit pertandingan. Contoh nyatanya, ada banyak orang yang rela mengantri untuk membeli tiket pertandingan dan melakukan nonton bareng di sebuah warung kopi, cafe, maupun restoran, orang tua yang mewariskan klub favorit kepada anaknya, dan menggunakan jersey tim kesayangannya sebagai kebanggaan.

Jika sebuah pertanyaan terkait kasus ini diungkapkan, mengapa sepak bola ini memiliki daya ikat sebesar itu? Mengapa seseorang merasa sepak bola itu sebagai jalan pulang mereka? Dan mengapa sebuah kemenangan klub favorit terasa seperti kemenangan pribadi? Jawabannya adalah sepak bola bukan hanya membicarakan hasil skor akhir pertandingan, tetapi di dalamnya membicarakan seperti sejarah, identitas, budaya, hingga nilai-nilai kemanusiaan.

Sepak bola bukan benar-benar sekadar membicarakan tentang bola. Di balik lambang klub, memiliki identitas diri yang ingin dipertahankan. Di balik sebuah pertandingan, ada banyak cerita yang ingin dikenang. Di balik sebuah chant supporter, ada cerita terkait siapa diri kita. Tidak mengherankan jika tim sekelas FC Barcelona menciptakan slogan yang sangat legendaris, yaitu “Més que un club” yang berarti lebih dari sebuah klub.

Més que un club” diciptakan oleh Narcis de Carreras pada tahun 1968. Dalam pidatonya ketika penerimaan presiden klub, ia menjelaskan bahwa FC Barcelona ingin menggambarkan sebagai klub yang peduli terhadap kehidupan di Catalan. 

Akar dari slogan ini berasal dari Joan Gamper pada tahun 1908. Pada saat itu, FC Barcelona mengalami krisis internal yang membuatnya mengambil alih kursi presiden klub. Setelah Joan Gamper menjadi presiden klub, klub ini terasa seperti terlahir kembali dan semangat yang disuntikkannya masih bertahan hingga saat ini. 

Bahkan di Pasal 4 statuta klub menyatakan bahwa tujuan sekunder FC Barcelona adalah berpartisipasi dalam kegiatan sosial, budaya, seni, ilmiah, atau rekreasi sebagai bentuk pelayanan kepada penggemar dan warga Katalan yang setia mendukung klub (Novia et. al, 2013:12).  Dari sini menandakan bahwa Barcelona tidak hanya sebuah klub sepak bola, tetapi simbol identitas masyarakat Catalonia.

Mendukung suatu klub sepak bola bukan hanya mendukung tim yang berprestasi saja, tetapi banyak orang mewarisi klub kesayangan dari keluarga, lingkungan, hingga kota yang ditinggalinya. Jadi, klub sepak bola menjadi simbol rasa memiliki, bukan hanya sekadar hiburan. FC Barcelona telah menjadi identitas sosial bagi masyarakat Catalan. Bagi mereka, FC Barcelona merupakan representasi wilayahnya. 

Jika diulik sejarahnya, Catalan merupakan salah satu provinsi termakmur di Spanyol, ini membuat Spanyol mengandalkan Catalan ketika negaranya mengalami krisis ekonomi. Warga Catalan merasa bisa untuk merdeka dan tidak bergantung pada Spanyol, tetapi Spanyol menganggap warga Catalan bergantung padanya. 

Dari sinilah, konflik keduanya muncul. Puncak konflik kedua wilayah ini ketika Jenderal Franco mengambil alih Spanyol pada tahun 1939. Ia melarang seluruh identitas daerah, seperti bahasa dan bendera di Spanyol, tidak terkecuali provinsi Katalan. 

Warga Catalan pun tidak menerima atas apa yang dideritanya dan mereka pun mencari jalan keluarnya. Pada Akhirnya, FC Barcelona-lah yang menjadi wadah mereka untuk mengekspresikan diri, di mana mereka menyanyikan lagu untuk penyemangat tim, mengibarkan bendera Catalonia, dan menjadi simbol perlawanan terhadap kerajaan Spanyol.

Meskipun belum dapat merdeka secara penuh dari Spanyol, masyarakat Catalan tetap menyuarakan semangat “Catalanisme”. Semangat ini muncul terutama pada laga El Clasico yang mempertemukan antara FC Barcelona dengan Real Madrid. Pertandingan ini bukan hanya sekadar pertandingan sepak bola, tetapi pertandingan politik antara Catalonia melawan Spanyol (Novia et. al, 2013:12).

Sepak bola telah menjadi fenomena global, FC Barcelona pun mencoba untuk meluas jangkauannya ke global melalui visi, misi, maupun permainan di atas lapangan. Ini membuat FC Barcelona merespon apa yang dibutuhkan oleh global. Salah satu langkah yang paling terkenal adalah bekerja sama dengan yayasan UNICEF. 

FC Barcelona menjalin kerja sama beberapa tahun dengan UNICEF untuk memenuhi berbagai program kemanusiaan dan pembangunan hak-hak anak. Di dalam kerja sama itu, FC Barcelona lah yang memberikan uang sumbangan kepada UNICEF. Hal ini menjadikan salah satu kerja sama sponsor sepak bola yang unik di dunia (Novia et. al, 2013:13).

Terkait cerita dengan sponsor, FC Barcelona memiliki cerita unik di dalamnya. Sebelum tahun 2006, FC Barcelona tidak memiliki sponsor di depan jerseynya, ini merupakan tradisi yang telah dipertahankan oleh klub-klub spanyol. Akan tetapi, di tahun 2006, FC Barcelona memutus tradisi ini dengan bekerja sama dengan UNICEF, walau awalnya banyak pihak yang protes terkait hal ini. Sekarang, FC Barcelona telah bekerja sama dengan Spotify sejak 2022 setelah Joan Laporta resmi menjadi presiden klub untuk menyelamatkan kondisi finansial klub yang bahkan menjadi nama stadion FC Barcelona, Spotify Camp Nou.

Pada saat ini, FC Barcelona telah menjadi salah satu klub sepak bola tersukses di dunia dan memiliki banyak fanbase di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang bernama Indobarca. Selain itu, FC Barcelona tidak hanya memiliki klub sepak bola saja, tetapi ada klub futsal, basket, bola tangan, dan hockey roller. Ini juga menandakan bahwa FC Barcelona itu lebih dari sebuah klub.

Selain itu FC Barcelona telah berhasil mencetak pemain-pemain kelas dunia melalui akademinya, La Masia, seperti Lionel Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Jordi Alba, Luis Milla, Mikel Arteta, Pep Guardiola, Sergio Busquets, Cesc Fabregas, Carles Puyol, Andre Onana, Mauro Icardi, Pablo Gavi, Pau Cubarsi, Fermin Lopez hingga Lamine Yamal. 

***

Penulis: Ahmad Zaydan Puliwarna, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Ayuk Wiji Safitri


REFERENSI:

Novia, A., & Marvin, R. (2013). El Llibre Del Barça. Be Champion. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama