Aku, OSIS, dan Kebenaran yang Terungkap

Ilustrasi dari mika_id: anak osis

Menjadi murid yang diperhatikan guru populer di sekolah sering kali dianggap sebagai keberuntungan. Ada kebanggaan tersendiri, bahkan terkadang terasa seperti memiliki ‘jalan khusus’ yang tidak dimiliki siswa lain. Namun, bagaimana jika sosok yang dikagumi itu justru menyimpan sisi gelap? Apakah kedekatan itu masih layak dipertahankan?. Pengalaman inilah yang aku alami ketika bergabung dalam organisasi paling bergengsi di sekolah, yang awalnya akan menjadi jembatan masa depan, tapi justru meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Tahun 2021 menjadi awal perjalananku di bangku SMK. Aku dikenal sebagai siswa yang ambisius dan berorientasi pada prestasi. Aku berhasil masuk ke sekolah yang cukup popular bagi perempuan, sementara dua temanku tidak. Aku merasa bangga karena piagam kejuaraan di masa SMP membantuku membuka jalan tersebut.

Sehari sebelum kegiatan MPLS dimulai, aku menerima pesan dari Ketua OSIS. Ia mengajakku untuk bergabung dalam organisasi itu. Bahkan, ia menunjukkan tangkapan layar percakapan dengan pembina OSIS yang menyebut namaku secara langsung untuk bergabung. Tawaran itu membuatku sangat antusias. Dengan dukungan kakakku, yang mengatakan bahwa OSIS dapat menjadi “jembatan menuju banyak manfaat,” aku pun menerima kesempatan itu.

Proses seleksi berjalan lancar. Aku mengikuti tes membuat proposal dan wawancara langsung dengan persiapan matang. Ketika pengumuman keluar, aku terkejut karena berhasil meraih peringkat pertama. Bagiku, ini adalah kepuasan dan api semangat.

Di awal masa kepengurusan, semuanya terasa menyenangkan. Anggota berjumlah 74 orang dan sering mengadakan rapat besar yang terasa seperti forum penting. Disiplin menjadi aturan utama. Kami dituntut untuk datang tepat waktu, menjaga sikap, dan menjadi contoh bagi siswa lain. Aku ditempatkan di bidang pembinaan prestasi akademik, seni, dan olahraga, sesuai dengan passionku. Aku sering terlibat dalam kegiatan kreatif seperti menyanyi dan tampil dalam berbagai acara. Bahkan, aku mendapat kesempatan untuk memimpin pembacaan asmaul husna setiap pagi melalui pengeras suara sekolah. Semua itu membuatku merasa berarti.

Namun, setelah lima bulan berlalu, suasana mulai berubah. Perintah dari pembina semakin tidak masuk akal. Kami diwajibkan datang jam 6 pagi, mengikuti rapat yang berlangsung seharian hingga harus tetap berkumpul sampai larut malam setelah acara selesai, hanya untuk bergurau. Tidak hanya itu, kami juga harus selalu siap merespons pesan di grup, bahkan di luar jam sekolah rapat selalu diada-adakan. Tidak ada batas antara waktu belajar, istirahat, dan kegiatan organisasi.

Tekanan semakin terasa ketika pembina menunjukkan sikap yang tidak profesional. Ia sering menuntut perhatian berlebihan dan mengharapkan kami memahami suasana hatinya yang mudah berubah. Dengan alasan ‘kalian anak saya,’ ia mulai bersikap terlalu dekat secara fisik dan emosional. Yakni mengusap kepala, merangkul, mengantarkan pualng OSIS larut malam, dan mengirimi pesan pribadi yang tabu. Pembina itu pernah bicara kepadaku bahwa, “jika saya seumuran dengan kamu saya akan memilih kamu. Jadi sekarang harus pilih suami yang baik ya.” Dalam hati aku bergidik dan bertanya-tanya. Aku mulai melihat bahwa banyak teman mengalami hal serupa. Mereka dimarahi tanpa alasan jelas, diberi tugas berlebihan, dan diperlakukan tidak adil. Namun, tidak ada yang berani bersuara. Mereka takut kehilangan kesempatan atau mendapat tekanan lebih besar.

Ketika masa pergantian kepengurusan tiba, aku ditawari untuk menjadi ketua OSIS. Namun, kondisi yang aku alami membuat menolak secara halus. Aku mulai mengambil jarak, tidak lagi mengikuti kegiatan yang tidak penting, dan memilih pulang tepat waktu. Keputusan ini membuatku dijauhi semua anggota OSIS termasuk Pembina.

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ke periode kedua. Aku merasa lelah fisik dan mental. Banyak kegiatan atau tugasku diluar OSIS tak terurus. Dari 74 anggota, hanya lima orang yang bertahan. Sebagian besar memilih mundur, meskipun sebelumnya mereka takut melakukannya.

Kebenaran akhirnya terungkap. Setelah aku lulus, muncul kabar yang menghebohkan dan viral di medsos: “Pembina Osis Mesum Bersama Murid di Kamar Mandi Masjid.” DUAR!!

Refleksi:

Peristiwa itu menjadi titik balik. Banyak orang mulai menyadari bahwa selama ini ada sesuatu yang salah. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa tidak semua hal yang terlihat baik di awal akan berakhir demikian. Keberanian untuk bersikap dan menjaga batas diri adalah hal penting, meskipun harus menghadapi tekanan sosial. Aku bersyukur karena memilih untuk tidak diam sepenuhnya. Jika saat itu aku mengikuti arus, mungkin aku akan berada dalam posisi yang buruk.

Pada akhirnya, kebenaran memang membutuhkan waktu untuk muncul. Namun, ketika itu terjadi, semuanya menjadi jelas. Dan bagiku, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga sekaligus luka yang membekas tentang pengalaman, popularitas, dikucilkan, keberanian, dan pentingnya menjaga diri.

Penulis: Faridatun Nasikha

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama