Dulu, kami sering membicarakan rencana liburan bersama. Kami menyusun mimpi sederhana, pergi ke Jogja, menyusun perjalanan sendiri, dan menikmati kebebasan seperti yang sering kami lihat dari orang lain. Namun saat itu, semuanya masih sebatas angan. Keterbatasan membuat kami hanya bisa merencanakan tanpa benar-benar melangkah.
Seiring waktu, keadaan berubah. Kami mulai memiliki penghasilan sendiri, mulai memahami tanggung jawab, dan perlahan mampu mewujudkan apa yang dulu hanya kami bayangkan. Perjalanan itu akhirnya benar-benar terjadi. Kami menyusun semuanya sendiri, membuat rundown, menentukan tempat yang ingin dikunjungi, hingga mengatur biaya tanpa bergantung pada siapa pun. Perjalanan terasa semakin bermakna ketika kami menggunakan mobil baru milik salah satu teman kami. Mobil itu bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol dari kerja kerasnya. Dibeli dari hasil usahanya sendiri, mobil itu menjadi bukti bahwa kami tidak lagi berada di fase yang sama seperti dulu.
Sepanjang perjalanan, musik favorit kami diputar. Lagu-lagu yang dulu hanya menemani angan, kini mengiringi perjalanan yang benar-benar kami jalani. Kami tertawa, bernyanyi, dan menikmati setiap momen dengan rasa bangga yang sederhana. Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kami tiba di kawasan Kaliurang saat malam sudah larut. Udara dingin mulai terasa, dan suasana sekitar sepi. Ketika sampai di penginapan yang sudah kami pesan, tempat itu justru terlihat tertutup dan kosong. Tidak ada tanda-tanda aktivitas.
Kami mencoba menghubungi nomor yang tertera, tetapi tidak ada balasan. Telepon yang kami lakukan juga tidak diangkat. Situasi itu membuat kami panik. Dalam kondisi lelah setelah perjalanan panjang, kami mulai memikirkan kemungkinan terburuk: tidak mendapatkan tempat menginap di malam itu. Kekhawatiran semakin besar karena lokasi kami berada di Kaliurang, yang tidak seramai pusat kota. Di jam yang sudah larut, pilihan terasa semakin terbatas.
Di tengah situasi itu, salah satu teman saya berinisiatif membuka gerbang dan memarkirkan mobil. Kami mencoba tetap tenang, meskipun kebingungan mulai terasa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan menekan bel beberapa kali. Tidak ada respons.
Kami akhirnya duduk di teras besar yang gelap. Lelah, dingin, dan tanpa kepastian. Untuk sesaat, perjalanan yang kami rencanakan dengan matang terasa seperti kesalahan. Tidak lama kemudian, pintu akhirnya terbuka. Seorang kakek bersama pengurus penginapan keluar dan menghampiri kami. Mereka langsung membantu mempersiapkan tempat untuk kami beristirahat.
Dari situ kami mengetahui bahwa penginapan tersebut adalah rumah tua yang dikelola oleh anak pemiliknya yang berada di Jakarta. Hal itu menjelaskan mengapa saat kami menghubungi sebelumnya tidak ada respons. Rasa panik yang sempat muncul perlahan berubah menjadi lega. Malam itu menjadi pengalaman yang tidak kami rencanakan, tetapi justru paling membekas.
Keesokan paginya, suasana berubah total. Kami sarapan dengan pemandangan Gunung Merapi di kejauhan. Udara pagi yang sejuk dan tenang seolah menutup ketegangan malam sebelumnya. Momen itu terasa sederhana, tetapi utuh.
Perjalanan itu kemudian menjadi sesuatu yang ingin kami ulang setiap tahun. Sebuah cara untuk menjaga kebersamaan di tengah kesibukan masing-masing. Namun, seiring waktu, frekuensi itu mulai berkurang. Kesibukan kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab membuat kami tidak selalu memiliki waktu yang sama. Meski begitu, hubungan kami tidak benar-benar hilang. Ada kalanya saya mendatangi mereka, bukan untuk perjalanan besar, tetapi sekadar memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa perjalanan anak muda tidak hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang proses dan ketidakpastian. Apa yang dulu hanya menjadi wishlist, kini menjadi kenyataan yang tidak selalu berjalan sempurna.
Saya juga memahami bahwa kedewasaan membawa perubahan. Waktu kebersamaan mungkin berkurang, tetapi maknanya menjadi lebih dalam. Kami tidak selalu bersama, tetapi tetap saling menjaga.
Selain itu, pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai lingkungan pertemanan yang sehat. Dibandingkan dengan masa lalu yang tidak selalu memberi ruang untuk kebahagiaan bersama, saya kini lebih bersyukur berada di lingkungan yang saling mendukung.
Jogja dalam cerita ini bukan sekadar tempat, tetapi simbol dari perjalanan menuju kemandirian. Tentang mimpi yang akhirnya terwujud, tentang rencana yang diuji oleh realitas, dan tentang kebersamaan yang harus beradaptasi dengan waktu.
Pada akhirnya, yang membuat perjalanan ini berkesan bukan hanya karena berhasil dilakukan, tetapi karena kami menjalaninya bersama, dalam segala kondisi.
![]() |
| Yogyakarta, Taman Pramuka Kaliurang |
![]() |
| Tankaman Park kafe dengan view Gunung Merapi |
Penulis: Vitroh Muqti Masitoh



