Pengalaman kerja pertama saya memberikan pelajaran yang tidak saya duga sebelumnya, yaitu tentang pentingnya rasa hormat dan cara berkomunikasi di lingkungan kerja. Pada awalnya, saya merasa senang karena akhirnya bisa bekerja sambil menjalani kuliah. Saya berpikir bahwa saya mampu menjalani keduanya meskipun mungkin terasa melelahkan. Namun, setelah beberapa hari, saya mulai menyadari bahwa bekerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang menghadapi sikap dan perilaku orang lain.
Suatu hari, saya sedang menjalankan tugas seperti biasa, yaitu melakukan packing barang dengan hati-hati. Tiba-tiba, atasan saya menegur saya di depan rekan kerja lainnya. Meskipun nada bicaranya tidak terlalu keras, situasi tersebut membuat saya merasa tidak nyaman karena terjadi di depan banyak orang. Setelah itu, kesalahan saya justru dijadikan bahan candaan. Orang-orang di sekitar saya tertawa, dan saya merasa malu. Saat itu, saya bingung apakah saya terlalu sensitif atau memang situasi tersebut kurang tepat.
Sebagai pekerja baru, saya masih dalam tahap belajar dan berusaha melakukan yang terbaik. Sebenarnya, menerima koreksi adalah hal yang wajar. Namun, cara penyampaiannya sangat memengaruhi perasaan saya. Sejak kejadian itu, saya mulai merasa cemas saat bekerja karena takut melakukan kesalahan dan kembali menjadi bahan candaan. Saya juga menyadari bahwa beberapa pekerja lama di melakukan kesalahan yang serupa, tetapi tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Hal ini membuat saya mempertanyakan keadilan di lingkungan kerja.
![]() |
| Ilustrasi: Representasi tekanan sosial dan kurangnya empati dalam lingkungan kerja. |
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya. Hal sederhana seperti memberikan masukan secara pribadi atau menggunakan nada yang lebih suportif dapat memberikan dampak yang besar. Rasa hormat seharusnya tidak bergantung pada lama seseorang bekerja, tetapi harus diberikan secara adil kepada semua orang.
Saya juga belajar untuk lebih peka terhadap kondisi diri sendiri. Tidak apa-apa jika saya merasa tidak nyaman dalam suatu lingkungan. Setiap orang berhak berada di tempat yang membuatnya merasa dihargai. Pengalaman ini membuat saya lebih sadar bagaimana seharusnya saya memperlakukan orang lain di masa depan, terutama dalam bekerja dalam tim.
Sebagai penutup, meskipun pengalaman kerja pertama saya tidak berjalan sempurna, pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang empati, keadilan, dan komunikasi. Saya berharap semakin banyak orang yang menyadari bahwa tindakan dan kata-kata kecil dapat memberikan dampak besar bagi orang lain. Lingkungan kerja yang saling menghargai tidak hanya baik untuk individu, tetapi juga untuk keseluruhan tim.
Penulis: Farisah Ulayya Nuha
