SUNGAI YANG PERNAH MENJADI RUMAH KENANGAN


Saya adalah perempuan kelahiran tahun 80-an—generasi yang tumbuh tanpa gawai, tetapi kaya akan kenangan yang tidak tergantikan. Jika saya diminta menyebutkan satu hal yang paling saya rindukan dari masa kecil, maka jawabannya sederhana: suara gemericik sungai. Suara itu bukan sekadar bunyi air, tetapi seperti lagu kehidupan tenang, jernih, dan menenangkan hati.

Saya lahir dan besar di sebuah desa yang tidak jauh dari pantai. Angin laut selalu hadir menyapa, berpadu dengan hamparan sawah yang menghijau. Meski kami tinggal di wilayah pesisir, kehidupan kami sangat dekat dengan tanah dan air. Alam bukan hanya latar belakang, tetapi bagian dari diri kami.

Masa kecil saya dipenuhi kesederhaan yang justru terasa begitu kaya. Setiap sore, setelah membantu orang tua atau pulang sekolah, saya dan teman-teman bergegas menuju sungai. Tanpa perlu diajak, tanpa perlu direncanakan—seolah sungai itu memanggil kami pulang.

Airnya begitu jernih. Kami bisa melihat dasar sungai dengan jelas: batu-batu kecil yang halus, ikan-ikan kecil yang berenang lincah, bahkan bayangan langit yang memantul di permukaannya. Kadang kami mencoba menangkap ikan dengan tangan kosong, meski hampir selalu gagal dan berakhir dengan tawa.

Suatu hari, saat saya terlalu asyik bermain, tiba-tiba kaki saya terasa perih. Ternyata seekor yuyu menjepit jari saya. Saya sempat menangis, tetapi tidak lama kemudian kembali bermain. Rasa sakit itu kalah oleh kebahagiaan yang kami rasakan.

Kami sering lupa waktu. Matahari mulai tenggelam, langit berubah jingga, tetapi kami masih enggan pulang. Hingga akhirnya terdengar suara orang tua memanggil—kadang dengan nada marah. Saya pulang dengan langkah pelan, sambil bersiap dimarahi karena terlalu lama bermain di sungai.

Ada satu momen yang selalu saya tunggu: ketika hujan turun. Setelah hujan reda, kami berlari ke sungai. Airnya terasa lebih segar, mengalir lebih deras, dan tetap jernih. Bau tanah basah bercampur dengan udara sejuk menciptakan suasana yang begitu hidup—seakan sungai ikut bernapas bersama kami.

Namun, tidak semua kenangan itu indah tanpa noda. Saya pernah melihat seseorang membuang sampah ke sungai. Saat itu saya belum sepenuhnya mengerti, tetapi hati saya terasa tidak nyaman. Sungai yang bagi saya adalah tempat bermain dan kebahagiaan, ternyata bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai tempat pembuangan.

Waktu terus berjalan, dan perlahan semuanya berubah.

Kini, ketika saya kembali melihat sungai itu, hati saya terasa sesak. Airnya tidak lagi jernih. Warnanya keruh, bahkan terkadang berbau. Sampah terlihat di beberapa sudut, dan ikan-ikan kecil yang dulu begitu banyak kini hampir tidak terlihat. Tidak ada lagi anak-anak bermain, tidak ada lagi tawa. Sungai itu seakan kehilangan jiwanya.

Saya berdiri di sana, menyadari bahwa yang hilang bukan hanya sungai, tetapi juga sebagian dari masa kecil saya.

Sebagai seorang ibu dari dua anak, saya sering bertanya dalam hati: apakah mereka akan pernah merasakan kebahagiaan sederhana seperti yang saya alami dulu? Bermain di sungai tanpa rasa takut, tertawa lepas, dan pulang dengan cerita yang penuh warna.

Pertanyaan itu sering membuat saya terdiam.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa alam bukan hanya tempat kita hidup, tetapi juga warisan. Ketika kita lalai menjaganya, kita tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merampas kenangan dari generasi berikutnya.

Saya mungkin tidak bisa mengembalikan sungai itu seperti dulu. Namun saya bisa memulai dari hal kecil—mengajarkan anak-anak saya untuk mencintai alam, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghargai setiap sumber kehidupan.

Harapan saya sederhana: semoga suatu hari nanti, anak-anak saya dapat kembali mendengar suara gemericik sungai yang jernih. Bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai kenyataan yang hidup.

Dan jika itu terjadi, maka kenangan masa kecil saya tidak akan benar-benar hilang—melainkan akan terus mengalir, seperti sungai yang dahulu pernah menjadi rumah bagi kebahagiaan kami.


Penulis: Dewi Kumala Sari 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama