Menemukan "KEDAMAIAN" di Ketinggian 1.726 MDPL

 


Kabut tipis merayap masuk melalui sela-sela tenda, memaksa saya mengeratkan sleeping bag. Suhu di area camping Gunung Andong pagi itu menembus angka di bawah 16 derajat Celcius. Namun, alih-alih menggerutu dingin, saya justru tersenyum. Inilah aroma yang saya rindukan. Aroma tanah basah, pinus, dan kebebasan.


Bagi sebagian orang, hobi adalah mengoleksi barang atau menonton film. Bagi saya, hobi adalah mengoleksi jejak kaki di jalur pendakian.


Pertama kali saya menapakkan kaki di gunung, rasanya seperti disiksa. Napas memburu, kaki gemetar, dan pundak terasa melepuh menahan beban kerir. "Ini pendakian pertama dan terakhir," umpat saya dalam hati saat itu. Namun, memori tentang "penyiksaan" itu seketika sirna saat saya sampai di puncak. Saat matahari terbit menembus lautan awan, dunia terasa berhenti. Saat itulah, saya jatuh cinta.


Jurnalistik alam bebas bukan hanya tentang menaklukkan puncak, melainkan tentang menaklukkan ego diri sendiri.


Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan bukanlah saat berhasil mencapai puncak, melainkan saat saya harus memutuskan untuk turun—saat badai mendekat, atau saat fisik teman seperjalanan tidak memungkinkan. Alam mengajarkan kerendahan hati. Bahwa manusia hanyalah tamu kecil di rumah raksasa yang megah ini.

 

Penulis: Masrokan


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama