Media sosial kini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga membentuk cara masyarakat merespons suatu isu. Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian publik dinilai semakin mudah berubah mengikuti tren yang sedang viral. Akibatnya, banyak kasus atau kontroversi di media sosial hanya ramai diperbincangkan dalam waktu singkat sebelum akhirnya dilupakan.
Fenomena tersebut terlihat di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Figur publik yang sempat mendapat kritik besar dari netizen sering kali dapat kembali diterima publik setelah mengunggah konten hiburan, tampil emosional, atau kembali aktif berinteraksi dengan penggemar.
Dalam kajian budaya digital, kondisi ini berkaitan dengan cancel culture, yaitu tindakan menarik dukungan sosial terhadap figur yang dianggap melakukan kesalahan atau melanggar norma tertentu di ruang publik digital. Akademisi media digital Eve Ng menjelaskan cancel culture sebagai bentuk penarikan dukungan publik terhadap individu yang dianggap bermasalah melalui partisipasi masyarakat di media sosial.
Namun, penerapan cancel culture dinilai sulit bertahan lama. Algoritma media sosial mendorong pengguna terus berpindah dari satu isu ke isu lain sehingga perhatian publik cepat teralihkan. Kemarahan massal di internet akhirnya sering hanya berlangsung sementara.
Fenomena tersebut juga diperkuat budaya fandom dan fanatisme digital. Tidak sedikit pengguna media sosial tetap membela figur favoritnya meskipun sedang menuai kontroversi. Dalam beberapa kasus, kesalahan figur publik bahkan mulai dinormalisasi karena dianggap memiliki visual menarik, kepribadian menghibur, atau pengaruh besar di media sosial.
Selain itu, konten yang minim nilai edukasi juga tetap mudah viral apabila dibawakan figur populer. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas dan daya tarik personal sering lebih memengaruhi respons publik dibanding substansi informasi yang disampaikan.
Budaya viral yang bergerak cepat membuat masyarakat digital cenderung mudah terbawa arus tren tanpa proses refleksi yang mendalam. Akibatnya, isu penting sering tenggelam sebelum menghasilkan diskusi atau penyelesaian yang jelas.
Fenomena ini memperlihatkan pentingnya literasi digital di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Kemampuan untuk berpikir kritis dan tidak mudah terbawa arus viralitas dinilai penting agar media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan sesaat, tetapi juga ruang diskusi publik yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Penulis: Vitroh Muqti Masitoh
